preload

Selamat Jalan

Published in: Label:


SEMOGA ALLAH MERAHMATINYA : kepada sahabat terbaikku yang telah mendahuluiku..

Published by Akhunais
Hukum kematian bagi manusia pasti berlaku
Dunia ini bukanlah negeri abadi
Di satu masa manusia menjadi pendengar kabar berita
Namun di waktu lain, ia menjadi salah satu dari berita itu pula
Kehidupan memang selalu berubah. Persahabatan selalu diiringi dengan pertemuan… Saling mengunjungi sesama teman, menimbulkan kegembiraan dan ketentraman jiwa. Berhari-hari kami tidak saling berjumpa. Waktu berjalan cepat. Sudah sebulan atau lebih aku tidak bertemu dengan Abdullah..
Aku teringat ketika aku mengecamnya karena ia terlambat mengunjungiku… Kenapa kita hanya bertemu setiap bulan? Itukah hak persahabatan menurutmu? Kali ini, aku akan kebih marah lagi. Kami sudah berada di penghujung bulan Ramadhan, namun tidak juga melihat batang hidungmu…
Ia menghubungiku melalui telepon sekali atau dua kali. Namun aku hanya melihatnya sekali saja, dalam keadaan tergesa… Kesibukan hidup telah mengambil seluruh waktunya. Tidak ada waktu bagi kami untuk duduk berakrab-akrab. Segala kesibukannya telah menjadi penghalang untuk berkunjung. Aku mencacinya karena persahabatan, dan aku mengecamnya karena aku menyukainya…
Pada hari-hari ini, aku pun tidak memiliki waktu, karena aku adalah imam masjid. Namun moga-moga aku dapat bertemu dengannya sekali waktu… Ia meneleponku. Aku akan datang berkunjung, tanpa kutentukan waktunya…
Di bulan Ramadhan, aku telah menjadwal waktuku. Untuk mengulang hafalan, untuk shalat Tarawih, dan sisanya untuk persiapan shalat malam… Tapi bagaimanapun kondisinya, aku harus melihatmu..
Dua hari kemudian, ia datang. Namun kedatangannya agak terlambat… “Aku harus pergi untuk shalat malam. Apakah engkau hanya bisa memilih waktu seperti ini? Aku ingin berjumpa denganmu sesudah selesai shalat?” Ia beralasan terlalu sibuk. Ia bisa mencari celah alasan: “Bukankah engkau juga perlu istirahat. Aku sendiri memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum besok hari..
Aku memanfaatkan kelupaannya. Waktu shalat malam. Ia tampak lamban memberi jawaban. Aku bisa membaca hal itu. “Malam ini kita mengkhatamkan Al-Qur’an?”
“Engkau harus shalat bersama kami.” Ketika aku lihat ia terdiam, dengan bercanda, aku melanjutkan: “Jangan buang-buang waktu. Bisa jadi ini khatam Al-Qur’an terakhir bagimu…” Ternyata memang demikianlah kenyataannya.
Tatkala pemuda itu bergembira ria, merasa senang dengan yang diusahakannya selama ini, tiba-tiba datang kabar: Pemuda itu sakit tak tertahan! Ia tidak bisa tidur semalaman..
Tiba-tiba pula datang kabar: ia bangun dalam keadaan sakit berat, tak ada lagi harapan.
Tiba-tiba datang berita: Pagi itu ia terpaku memandang dan diarahkan ke kiblat sana. Ia sakit. Tiba-tiba pula datang kabar: Ia sudah tiada.
“Semoga Allah menghilangkan kesepianmu. Semoga Allah memberikan rahmat, dengan kesendirianmu. Engkau tengah menghadapi ujian berat… Semoga Allah memberi kebaikan atas persahabatan kita…”
Kini ia telah tiada, semoga Allah merahmatinya…
Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 146-148.

Read More...

KISAH

Published in: Label:

Tukang Roti dan Istighfar

Published AKHUNAIS
Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Imam Ahmad ingin menghabiskan malamnya di masjid, akan tetapi beliau dilarang menginap di masjid lewat perantara penjaga masjid. Imam Ahmad berusaham agar diizinkan namun sia-sia. Imam Ahmad berkata kepadanya, “Saya akan tidur di sini.” Dan benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempatnya itu. Maka penjaga masjid mengeluarkannya dari area masjid.
Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, terlihat padanya ciri-ciri kebaikan dan ketakwaan. Tiba-tiba beliau dilihat oleh seorang tukang roti. Melihat beliau seperti itu, dia menawarkan agar menginap di rumahnya. Lantas Imam Ahmad bin Hanbal mengikuti si tukang roti. Dia menjamu beliau kemudian beranjak pergi mengambil adonannya untuk membuat roti. Imam Ahmad mendengar si tukang roti beristihfar dan beristighfar.
Waktu berlalu lama, sementara dia tetap seperti itu (beristighfar), Imam Ahmad bin Hanbal keheranan. Ketika hari beranjak pagi, Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti tentang istighfarnya semalam, dia menjawab bahwa selama mengadon tepungnya, dia mengadon sambil beristighfar.
Imam Ahmad bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendapatkan buah dari istighfarmu?” Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti dengan pertanyaan ini karena beliau tahu buah-buah istighfar, beliau tahu keutamaan istighfar, serta tahu faidah-faidah istighfar.
Tukang roti berkata, “Ya. Demi Allah, saya tidak memohon permohonan kecuali pasti dikabulkan, kecuali satu doa.”
Imam Ahmad bertanya, “Apa itu?”
Si tukang roti berkata, “(Permohonan untuk) melihat Imam Ahmad bin Hanbal!”
Imam Ahmad berkata, “Saya Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku diseret kepadamu.”
> Kisah ini disebutkan oleh al-Ustadz Amr Khalid
Sumber: Keajaiban Sedekah & Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc & Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 142-143.

Read More...

TENTANG BLOG

Published in: Label:

بسم الله الر حمن الر حيم

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh ,
Tentang blog ini:
Blog ini kami buat pada desember 2011.
ini adalah blog. Berisi artikel-artikel seputar agama Islam, meliputi: seputar nasehat yang mudah mudahan bermanfaat bagi ikhwan / akhwat yang membacanya. Harapan besar, mendorong kami untuk membuka blog yang serba pas-pasan ini, semoga dengannya kami bisa berbagi dan saling mengungatkan akan kebaikan. Insya Allah.artikel yang ada dalam blog ini adalah hasil saduran dari tulisa-tulisan para ustadz dan mungkin telah banyak dipublikasikan diblog lain..Kritik dan Saran yang Membangun Sangat Berguna untuk Blog ini Kedepan.     InsyaAllahuTa’ala                                                                                                                              Jazakallahu khairon…

Read More...

RISLAH UNTUK SAUDARAKU

Published in: Label:

Risalah untuk Saudara Tercinta

Oleh Al Akh Al Ustadz Muhammad Nur Ichwan Muslim
الحمد لله وكفى، وصلاة وسلاما على عباده الذين اصطفى .. أما بعد
Sesungguhnya setiap manusia akan mengalami kesudahan. Betapa pun lezatnya dia merasakan kenikmatan hidup di dunia, betapa pun panjang umurnya, betapa pun dia memuaskan syahwat dan meneguk kenikmatan dunia, dirinya tetap akan mengalami kesudahan. Kematian! Itulah kesudahan tersebut. Sesuatu yang tidak dapat dihindari. Allah ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ (١٨٥)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (Ali Imran: 185).
Seorang penyair juga mengatakan,
كل ابن أنثى وإن طالت سلامته
يوما على آلة حدباء محمول
Setiap manusia, betapa pun panjang umurnya
Kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda
Pada hari tersebut seluruh makhluk kembali menghadap kepada Allah jalla wa ‘ala agar seluruh amalan mereka dihisab. Allah ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ (٢٨١)
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah” (Al Baqarah: 281).
Hari yang sering terlupakan, hari yang paling akhir, hari dimana kerongkongan tersekat. Tiada hari setelahnya dan tidak ada yang semisal dengannya. Itulah hari yang dahsyat dan telah Allah tetapkan bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang muda maupun yang tua, yang terpandang maupun yang hina. Itulah hari kiamat, pertemuan yang telah dijanjikan.
Namun sebelum itu, ada waktu dimana setiap manusia berpindah dari kampung yang penuh tipu daya menuju kampung abadi sesuai dengan amalannya. Pada waktu itu, manusia akan melayangkan pandangannya yang terakhir kali kepada anak dan kerabatnya, dirinya akan memandang dunia ini untuk kali yang terakhir. Di saat itulah, tanda-tanda sekarat akan nampak di wajahnya. Muncul rasa sakit dan tarikan nafas yang teramat dalam dari lubuk hatinya.
Di waktu itu, manusia akan mengetahui betapa hinanya dunia ini. Di waktu itu, dirinya akan menyesali setiap waktu yang telah disia-siakannya. Dirinya akan memanggil, “Wahai Rabb-ku!”
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“Dia berkata: “Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku bisa berbuat amal yang saleh, (sebagai ganti) terhadap yang apa telah aku tinggalkan” (Al Mukminuun: 99-100).
Di waktu itulah, kebinasaan dan kematian akan menjemputnya. Malaikat maut akan menghampirinya seraya memanggil dirinya. Duhai! Apakah yang akan dia serukan? Seruan menuju surga ataukah seruan menuju neraka?!!
Ketahuilah, sesungguhnya pengasingan yang hakiki adalah pengasingan dalam lahat tatkala diri diliputi kain kafan. Tidakkah anda membayangkan bagaimana anda diletakkan di atas dipan, tiba-tiba tangan para handai taulan mengguncang tubuh anda (agar anda tersadar). Sekarat semakin keras anda alami dan kematian menarik ruh anda di setiap urat. Kemudian ruh tersebut kembali menuju kepada Pencipta-nya. Alangkah dahsyatnya kejadian itu!
Para keluarga pun datang dan menshalati anda, kemudian menurunkan jasad anda ke dalam kubur. Sendirian, tanpa seorangpun yang menemani. Ibu dan bapak tidak lagi menemani, saudara pun tidak ada yang akan menenangkan.
Disanalah seorang akan merasakan keterasingan dan ketakutan yang teramat sangat. Dalam sekejap, hamba akan berpindah dari kampung yang hina menuju negeri yang dipenuhi kenikmatan jika dirinya termasuk seorang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal yang shalih. Atau sebaliknya, dia akan menuju negeri kesengsaraan dan dipenuhi adzab yang pedih, bila dirinya termasuk seorang yang buruk amalnya dan senang mendurhakai Allah jalla wa ‘ala.
Sisi kehidupan dunia yang menipu telah dilipat, dan nampaklah di hadapan hamba ketakutan di hari kebangkitan. Hiburan dan kesenangan berlalu, dan yang tersisa hanyalah kelelahan (di hari berbangkit). Dalam sekejap, lembaran hidup seorang tertutup, entah lembaran hidupnya diwarnai dengan kebaikan atau sebaliknya diwarnai dengan keburukan. Timbullah dalam hati, penyesalan terhadap hari-hari yang telah dilalui dalam keadaan lalai dari mengingat Allah dan hari akhir.
Demikianlah, dunia dan seisinya berlalu dan berakhir sedemikian cepatnya. Dan sekarang dirinya menghadapi tanda-tanda kesengsaraan di depan matanya. Ruhnya kembali kepada Pencipta-nya dan berpindah menuju kampung akhirat dengan berbagai keadaannya yang begitu menakutkan. Dalam sekejap, dirinya kembali menjadi sesuatu yang tidak dapat disebut. Dalam sekejap, seorang singgah di awal persinggahan akhirat dan menghadapi kehidupan yang baru. Entah itu kehidupan yang bahagia, atau kehidupan yang mengenaskan. Wal ‘iyadzu billah.
Terdapat kubur yang penghuninya saling berdekatan dan berbeda-beda tingkat keshalihannya, itulah kubur yang didiami oleh penghuni yang senantiasa merasakan kenikmatan dan kesenangan.
Ada pula kubur yang terletak di lapis terbawah dan dipenuhi siksaan yang teramat pedih. Penghuninya berteriak, namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Dirinya meminta agar dikasihani, namun tidak seorang pun yang mampu memenuhi permintaannya.
Kemudian, dirinya akan menemui hari yang telah dijanjikan. Suatu hari, ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit dan seluruh makhluk di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Suatu hari, yang pada hari itu seorang tidak mampu menolong orang yang dikasihinya sedikitpun.
Tatkala malaikat penyeru memanggil, keluarlah seluruh mayit dari kubur menuju Rabb-nya dalam keadaan bertelanjang kaki, tak berbaju dan tidak berkhitan. Mereka tidak lagi memiliki pertalian nasab, juga kemuliaan, tidak pula kedudukan dan harta.
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ (١٠١)فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٢)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (١٠٣)تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ (١٠٤)
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” (Al Mukminuun: 101-104).
Pada hari itu, Allah mengumpulkan seluruh umat, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian. Di hari itu, kecemasan dan kesabaran tercerai berai. Pada hari itu, berbagai catatan amal disebar dan dipancanglah berbagai timbangan amal. Di hari itu, seorang akan lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, juga dari istri dan anaknya. Hari dimana seorang pelaku maksiat (kafir) menginginkan, jika sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, isterinya, saudaranya serta kaum kerabat yang telah melindunginya di dunia.
Wahai saudara tercinta,
Wahai anda yang bermaksiat kepada Allah. Bayangkanlah dirimu berdiri di antara para makhluk, lalu anda dipanggil, “Manakah gerangan fulan bin fulan? Mari bergegas ke hadapan Allah!” Engkau pun menggigil ketakutan, kedua kaki dan seluruh tubuhmu gemetar ketakutan. Raut wajahmu pun berubah dan dirimu diliputi kegelisahan, kebingungan dan kerisauan yang hanya Allah-lah mengetahui (keadaanmu).
Bayangkanlah dirimu berdiri di hadapan Sang Pencipta langit dan bumi, sementara hati dan anggota tubuhmu ketakutan, dengan pandangan tertunduk lagi hina. Tangan anda memegang catatan amal yang berisikan segala amalan anda yang rendah lagi hina. Anda pun membacanya dengan lidah yang kelu dan hati yang kacau. Dirimu pun merasa malu terhadap Zat yang senantiasa berbuat baik kepadamu dan selalu menutup aibmu.
Maka jawablah! Bagaimanakah anda akan menjawab, ketika Dia bertanya kepadamu tentang suatu kesalahan yang merupakan dosa terbesarmu? Bagaimanakah anda akan berdiri di hadapan-Nya dan sanggupkah engkau memandang-Nya? Bagaimana hati anda sanggup menahan perkataan-Nya yang mulia serta berbagai pertanyaan dan teguran-Nya?
Bagaimana jika Dia mengingatkan terhadap segala bentuk penentanganmu terhadap-Nya, kemaksiatan yang anda lakukan, kurangnya perhatian terhadap larangan dan pengawasan-Nya terhadap dirimu? Bagaimana jika Dia mengingatkan akan lemahnya perhatianmu untuk menaati-Nya di dunia?
Apa yang akan anda katakan jika Dia bertanya kepadamu, “Wahai hamba-Ku, mengapa engkau tidak memuliakan-Ku?! Apakah engkau tidak malu kepada-Ku?! Apakah engkau tidak merasa bahwa Aku mengawasimu?! Bukankah Aku telah berbuat baik dan memberikan nikmat kepadamu?! Apakah yang telah memperdayakanmu sehingga berbuat durhaka kepada-Ku?
Wahai saudara tercinta,
Bayangkanlah para pelaku kebaikan tatkala dikeluarkan dari kubur! Wajah mereka bersinar putih sebagai tanda kebajikan yang telah mereka lakukan. Mereka keluar dari kubur dengan tanda tersebut sebagai anugerah dari Allah Zat yang Mahamulia. Para malaikat menyambut mereka sembari berkata, “Inilah hari yang telah dijanjikan kepada kalian”. Bayangkanlah tatkala Allah ta’ala berkata, “Wahai para malaikat-Ku, masukkanlah para hamba-Ku ke dalam surga yang dipenuhi berbagai kenikmatan, masukkanlah mereka ke dalam keridlaan yang agung.” Segala puji bagi Allah, mereka pun hidup dalam kehidupan yang menyenangkan. Surga-surga dibukakan bagi mereka, bidadari mengelilingi untuk melayani mereka. Hilanglah sudah, kecemasan dan keletihan yang mereka alami.
Sebaliknya, bayangkanlah nasib jiwa yang zhalim lagi gemar bermaksiat kepada-Nya. Allah berkata kepada malaikat-Nya, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Sungguh amarah-Ku telah memuncak terhadap orang yang tidak malu ketika bermaksiat kepada-Ku.”
Akhirnya, jiwa yang zhalim lagi penuh dosa menghuni neraka yang menyala dan bergemuruh. Jiwa tersebut senantiasa berangan-angan, jika sekiranya ia mampu kembali ke dunia agar dapat bertaubat kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih. Namun, hal tersebut mustahil terjadi. Maka tertelungkuplah ia di atas keningnya, terjatuh ke dalam jurang-jurang kegelapan dan terombang-ambing di antara tangga-tangga neraka dan lapisan neraka terbawah, terombang-ambing di antara penyesalan dan malapetaka.
Alangkah jauh perbedaan kedua golongan tersebut, antara mereka yang berada dalam surga dan mereka yang berada dalam neraka. Sungguh benar firman Allah,
إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤)
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (Al Infithaar: 13-14).
Wahai saudara tercinta,
Bagi anda yang membaca risalah ini, rehatlah sejenak dan mari berintrospeksi diri! Jika anda termasuk golongan yang bersegera dalam melaksanakan ketaatan dan peribadatan kepada Allah serta menjauhi maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya, maka pujilah Allah atas nikmat tersebut, mohonlah keteguhan kepada-Nya hingga maut datang menjemput dan dengan seizin Allah kenikmatan akan anda raih tanpa ada yang merebutnya darimu .
Namun, jika anda tidak termasuk di dalamnya, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan kembalilah ke jalan petunjuk. Janganlah anda menentang dan senantiasa mengerjakan maksiat, karena hal tersebut akan menghantarkan anda kepada adzab Allah.
Sungguh diri anda teramat lemah untuk memikul dan menahan adzab-Nya. Gunung yang tinggi lagi kokoh jika dilabuhkan sejenak di neraka, maka dia akan meleleh dikarenakan panasnya yang teramat sangat. Bagaimana dengan diri anda, wahai manusia yang lemah?
Anda mungkin dapat sabar dalam menahan lapar dan dahaga, juga mampu untuk sabar menahan derita musibah dan beban hidup. Namun, demi Allah, Zat yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya, anda tidak akan mampu bersabar dalam menahan adzab neraka.
Jauhkanlah diri anda dari adzab neraka selama di dunia ini, sebelum penyesalan menghampiri anda dan waktu tidak mampu terulang kembali. Ketahuilah, bersabar untuk meninggalkan perkara yang diharamkan di dunia ini lebih mudah ketimbang bersabar menahan adzab-Nya di hari kiamat kelak.
Ketahuilah saudaraku, menempuh jalan keteguhan tidaklah sulit untuk dijalani dan mengekang kebebasan seperti anggapan sebagian orang. Justru, di dalamnya terdapat kebahagiaan, kelezatan, kenyamanan dan ketenangan. Apalagi yang manusia butuhkan di kehidupan ini selain hal tersebut?
Sebaliknya, kehidupan yang diwarnai kemaksiatan dan kedurhakaan, seluruhnya dipenuhi oleh rasa cemas, kemalangan dan kerugian di dunia serta akan dilanjutkan dengan kepedihan adzab di akhirat kelak.
Tempuhlah jalan petunjuk itu wahai saudaraku dan janganlah dirimu ragu. Sesungguhnya, diriku hanyalah pemberi nasihat bagi diriku sendiri dan bagimu dan sudilah kiranya dirimu menerimanya.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Sumber: http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/risalah-untuk-saudara-tercinta

Read More...

NASEHAT UNTUK SAUDARAKU

Published in: Label:

Wahai Saudaraku…Kembalilah…!!

Oleh Ustadz Abu Zubair Al Hawariy, Lc.

Saudaraku ..
Tulisan ini kutujukan kepadamu, ya .. kepadamu yang mengharapkan Ridho Allah dan kenikmatan yang kekal di sisiNya, serta takut kepada siksa dan azab yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan kafir.
Kepadamu saudaraku, yang pernah merasakan manisnya keimanan dan nikmatnya berjalan di atas jalan yang lurus serta indahnya mendekatkan diri kepada Allah.
Kepadamu saudaraku, yan g dulu bersemangat dan berpacu menuntut ilmu serta mengajak kepada kebaikan.
Kepada mu saudaraku yang dulu sering kulihat berzikir, membaca dan menghapalkan Al Qur’an.
Apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa engkau kini mulai menjauh dari teman-temanmu yang rajin sholat berjama’ah, cinta kepada ilmu agama, gemar mempelajari Al Qur’an dan Hadits serta membaca buku-buku yang bermanfaat?
Kenapa aku melihat semangatmu memudar, penampilanmu juga berobah ..tidak lagi seperti dulu yang berusaha mengikuti sunnah-sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama?
ingatkah engkau, ketika itu engkau berhenti dari tempatmu bekerja, kenapa?!
Ketika itu engkau mengatakan, karena tidak bisa sholat berjama’ah ke mesjid!
Karena engkau takut fitnah syahwat yang slalu menggoda!
Karena engkau ingin meninggalkan nyanyian dan menggantikannya dengan mendengarkan Al Qur’an!
Karena engkau ingin menjaga ‘iffah dirimu!
Karena engkau ingin menjaga Dinmu!!
Saudaraku .. kenapa aku lihat syahwat mulai mengalahkanmu, hasrat pun membelenggumu..wajahmu tidak pernah lagi kulihat di majelis-majelis ilmu!
Apakah engkau telah menyimpulkan bahwa iltizam dan keistiqomahanmu serta keta’atanmu kepada Robbmu selama ini sebuah kesalahan, lalu engkau memilih jalan lain; jalan yang menyimpang, maksiat dan kelalaian – agar engkau bisa sampai ke surga Firdaus?!
Ataukah engkau mengira jalan yang telah engkau tempuh selama ini terasa terlalu panjang dan berat, lalu engkau tidak sabar dan memilih jalan orang-orang lali dan lengah yang diperbudak hawa nafsu mereka, yang keinginan mereka hanyalah sebatas diri mereka sendiri, tidak peduli kepada Dinullah dan Dakwah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Ataukah engkau telah melupakan kematian dan sakarat-nya …
Melupakan kuburan dan kegelapannya …
Hari kiamat dan kedahsyatanya …
Neraka dan keras azabnya …
Semoga Allah melindungimu dari itu semua
Dan semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk orang-orang yang dikatakanNya,
واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آيتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاويين
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.” (Al A’rof : 175)
Kuharap dadamu lapang dan maafkan aku karena kerasnya kata-kataku kepadamu. Akan tetapi kecintaanku kepadamu yang kusimpan di dalam dadaku, dan kekhawatiran su-ul khotimah atas dirimu .. hal itulah yang telah membakar hatiku. Setiap kali aku melihat kondisimu yang membuat gembira musuhmu (Syetan beserta pengikutnya) serta membuat sedih teman-teman dan orang-orang yang mencintaimu.
Saudaraku, akankah engkau kembali sebelum kematian mendatangi?. Kapankah engkau kembali kepada taman keta’atan dan telaga taubat serta istiqomah yang penuh rahmah dan berkah dari Allah??
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.(Ali Imron : 135)
Tumbuhkanlah harapanmu, bangunlah asamu, sesungguhnya engkau memiliki Robb yang maha luas ampunanNya, membentangkan TanganNya siang dan malam untuk mengampuni orang-orang yang berdosa.
Mohonlah hidayah kepada Allah Ta’ala dengan tulus dari hatimu. Lihatlah Nabimu yang engkau cintai shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta hidayah kepada Robbnya, beliau berdo’a,
اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kekayaan”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Al Baihaqy dari Ibnu Mas’ud, dan sanadnya shohih, lihat, Shohih Al Jami’ no. 1275)
Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama mengajarkan itu sebagaimana beliau mengajarkan cucunya Al Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma agar di dalam qunut mengucapkan,  “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang engkau tunjuki”. (HR. Abu Dawud, An Nasa-I dan lain-lainnya, dari Abul Hawro’, dan sanadnya shohih, lihat : Misykatul Mashobiih no. 1273)
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama juga berlindung kepada Allah dari kesesatan setelah petunjuk,
اللهم إني أعوذ بعزتك أن تضلني لا إله إلا أنت
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaanMu dari Engkau sesatkan, tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Engkau”. (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Abbas)
Dalam do’a safar beliau mengucapkan,
وأعوذ بك من الحور بعد الكور
“Dan aku berlindung kepadaMu dari Al Haur setelah Al Kaur ”. (HR. Muslim)
Maksud Al Haur setelah Al Kaur yaitu; kerusakan setelah kebaikan, kesesatan setelah petunjuk.
Akuilah dosamu ..  tangisilah kesalahan dan kelalaianmu. Mintalah kepada Allah, agar Ia tidak menghinakanmu di hari pembalasan, serta agar Ia memutihkan wajahmu ketika dihitamkan wajah-wajah pelaku maksiat dan orang-orang kafir.
Mulailah lembaran baru yang putih bersama Allah Ta’ala dengan keta’atan dan taubat nashuhah.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al Kahfi : 28)
Palingkanlah wajahmu dari teman-teman yang tidak baik, dari orang-orang yang tidak peduli apakah engkau nanti di sorga atau di neraka. Bahkan lebih dari itu, kelak mereka di hari kiamat meminta kepada Allah Ta’ala supaya Allah menambahkan azab yang berlipat untuk  teman-teman mereka.
قالوا ربنا من قدم لنا هذا فزده عذابا ضعفا في النار
“mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan Kami ke dalam azab ini Maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka”. (Shod : 61)
Bersihkan dari dirimu debu-debu dosa dan kelengahan. Bergabunglah dengan kafilah yang berjalan menuju Allah Ta’ala.
Kembalilah saudaraku ..kepada Allah Ta’ala, agar engkau kembali menjadi telaga kebaikan yang selalu mengalirkan manfaat untuk umatmu.
Saudaraku, berikut ini sebagian kiat dan asbab yang akan membantumu untuk tetap teguh dan istiqomah dengan izin Allah Ta’ala :
  1. Do’a yang tulus, berdo’alah,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Hai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas din-Mu”.
  1. Carilah teman yang baik dan sholeh, yang akan membantumu untuk ta’at kepada Allah.
  2. Jauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik.
  3. Jagalah Kitabullah, dengan membaca, menghapal dan mempelajari makna-makna serta hokum-hukumnya, ketahuilah Al Qur’an adalah obat hati yang sakit.
  4. Jagalah ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah nafilah yang mengiringinya.
  5. Menuntut ilmu sya’ri dan menghadiri majelis-majelis ilmu.
  6. Takut kepada dosa dan akibatnya, karena dosa adalah penyebab su-ul khotimah.
  7. Membaca buku-buku yang bermanfa’at, mengikuti daurah-daurah ilmiyah dan dakwiyah.
  8. Ghoddul Bashor, percayalah dengan ghoddul bashor hatimu akan lebih tenang dan terasa manisnya keimanan.
10.  Ingatlah permusuhan syetan terhadapmu dalam setiap detik. Dan bahwasanya ia senantiasa mengintai kelengahanmu serta menggunakannya untuk menyeretmu menjadi temannya di neraka kelak.
Terakhir saudaraku, kalimat-kalimat ini mungkin keras dan tajam, akan tetapi ia memancar dari cinta yang tulus, hatiku lebih dahulu mengatakannya sebelum penaku menorehkannya, karena kasihan kepadamu saudaraku tercinta. Tidak ada yang kuinginkan melainkan kebaikan untukmu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmatNya untuk kita …
Dan sampai bertemu di atas jalan kebaikan dengan izin Allah Ta’ala, semoga Allah menjagamu saudaraku.


Read More...

NASEHAT UNTUK ORANG TUA

Published in: Label:

Nasehat Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Tuhannya, Nabinya, dan memiliki akhlak mulia.
Anak adalah karunia dan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terasa bahagia hati tatkala melihat mereka, terasa sejuk mata saat memandang mereka. Begitu pun jiwa terasa bahagia dengan keceriaan mereka. Bahkan nikmat Allah yang satu ini termasuk dalam doa Nabi Zakaria ‘alaihi salam. Beliau mengatakan:
“Rabb-ku janganlah Kau membiarkanku seorang diri, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mewarisi.” (Al-Anbiya: 89)
Anak adalah perhiasan hidup di dunia. Orang yang tidak dikarunia anak akan mengetahui betapa besar nikmat ini.
Adapun dirimu, sungguh engkau seorang ibu akan dimintai
pertanggungjawaban atas amanah yang telah Allah bebankan kepadamu pada hari kiamat nanti, apakah engkau menjaganya ataukah menyia-nyiakannya?
Ketahuilah olehmu, kesempurnaan perhiasan seorang anak tidaklah akan diraih kecuali dengan agama dan kebaikan akhlaknya. Bila tidak demikian, anak hanya akan menjadi musibah bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.
Banyak masalah yang berkaitan dengan pendidikan mereka secara umum, akan tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar, namun sekedar menyinggung beberapa perkara yang penting:
1. Bersemangatlah untuk menyelamatkan akidah mereka dari
perkara-perkara yang bisa mengotorinya. Hindarkanlah mereka dari memakai jimat-jimat, meramal nasib dengan melihat garis tangan atau bentuk-bentuk ramalan yang lainnya. Jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sesuatu yang agung dalam hati mereka.
2. Bersemangatlah dalam menanamkan keimanan, kebaikan dan perasaan selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hati mereka. Renungkanlah wasiat Luqman kepada anak-anaknya:
“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah tetap mendatangkannya (membalasnya).” (Luqman: 16)
Mereka harus senantiasa diingatkan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Maha Melihat amalan-amalan hamba-hamba-Nya.
Diriwayatkan dari Tsabit bin Qais dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Rasulullah mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Beliau memberi salam kepada kami, kemudian mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat datang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Maka aku menjawab, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibuku bertanya lagi, ‘Apa keperluan beliau?’ Aku katakan, ‘Ini rahasia.’ Maka ibuku pun mengatakan, ‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kau ceritakan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang pun.’ Anas berkata: ‘Demi Allah, seandainya aku memberitahtkan rahasia itu kepada seseorang sungguh aku juga akan memberitahukan padamu, wahai Tsabit’.” (Shahih, HR. Muslim)
Perhatikanlah, sang ibu tidaklah menghukum anaknya ketika merahasiakan urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadapnya, berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian ibu yang lain. Bahkan beberapa di antara kaum ibu terlalu banyak bertanya kepada anak mereka tentang hal-hal yang tidak layak diketahui banyak orang dari suatu rumah yang dikunjungi si anak, dan tentang segala yang terjadi di antara penghuni rumah tersebut. Dengan semua itu, tanpa disadari sang ibu telah menanamkan dalam diri anaknya sifat fudhul (terlalu ingin tahu urusan orang lain) dan suka menyebarkan rahasia.
3. Ingatkanlah mereka, bahwa Allah Maha Perkasa, menghukum
hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya. Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Ingatkanlah mereka tentang maut dan beratnya kematian, tentang alam kubur dan kegelapannya, serta tentang kiamat dan kengerian pada saat itu.
Perintahkanlah mereka untuk selalu taat kepada Allah, terlebih lagi dalam perkara shalat. Dampingilah mereka dalam melaksanakannya dan bangunkan mereka dari tidurnya untuk shalat. Tanamkanlah dalam diri-diri mereka agungnya kedudukan shalat. Waspadalah dari kasih sayang terhadap mereka yang membuatmu tidak membangunkan mereka yang dapat menyebabkan dirimu dan dirinya masuk ke dalam neraka.
Wal’iyaadzubillah.
Biasakanlah mereka berpuasa sejak kanak-kanak agar mudah
melaksanakannya ketika usia mereka telah baligh dan sadarkanlah mereka terhadap pengawasan Allah. Sesungguhnya puasa adalah pendidik paling besar bagi mereka agar mereka menyadari bahwa Allah Maha Mengawasi.
4. Awasilah anak-anakmu dan jangan biarkan mereka bermudah-mudah melakukan perkara-perkara yang mungkar, sementara engkau
mengetahuinya. Janganlah berdiam diri sementara engkau mengetahui bahwa putrimu mendengarkan nyanyian atau menggunakan cat kuku (kuteks) lalu ia berwudhu tanpa menghilangkannya, atau mengerik alisnya, atau ia melepaskan hijab yang syar’i, atau keluar dengan memakai wewangian, atau bepergian sendiri ke pasar maupun ke tempat-tempat umum lainnya, atau ia mengendarai mobil berdua saja dengan sopir, atau ia suka membaca majalah-majalah yang dapat merusaknya!
Janganlah engkau meletakkan telepon di kamar pribadinya dan awasilah ia dari jauh.
Janganlah bersikap terlalu percaya yang berlebihan atau merasa was-was yang keterlaluan yang dapat mempengaruhi diri putrimu hingga ia kehilangan rasa percaya dirinya.
Wahai ibu yang mulia, hindarilah memberikan protes tampa mampu berbuat sesuatu padanya atau engkau semata-mata membenci kemungkaran yang dilakukannya tanpa tindakan apapun. Akan tetapi, jadilah orang yang kuat memegang al-haq yang tidak akan ridha pada sesuatu yang batil namun lemah lembut dan penyayang dalam perkara-perkara selain itu. Didiklah dengan baik putrimu karena kelak di hari akhir dia bisa menjadi tabir/penghalang api neraka darimu.
Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Berbuat baik terhadap anak-anak perempuan diwujudkan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islami, mengajarkan ilmu kepada mereka, membesarkan mereka di atas al-haq dan semangat untuk menjaga kehormatan diri, serta menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan Allah berupa tabarruj* dan selainnya. Demikian itulah metode mendidik anak-anak perempuan dan anak laki-laki, juga dengan hal-hal selain itu yang termasuk sisi-sisi kebaikan, sehingga mereka semua terdidik untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah serta menegakkan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian kita ketahui bahwasanya maksud berbuat baik di sini bukanlah semata-mata memberi mereka makan, minum, dan pakaian saja. Bahkan maksudnya lebih besar daripada itu semua, yaitu berbuat kebaikan kepada mereka dalam masalah agama maupun dunia.” Beliau juga berkata: “Hadits ini ditujukan kepada ayah maupun ibu secara umum.” (Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Muta’addidah, 4/377)
5. Peringatkanlah putra-putrimu dari teman-teman yang jelek dan jelaskan akan bahayanya bergaul dengan mereka. Jagalah mereka dari bermain di jalanan serta bahayanya. Buatlah mereka sibuk dengan perkara-perkara yang memberi manfaat pada diri mereka, seperti menghafal Al Qur’an di masjid.
Janganlah engkau memasukkan alat-alat yang diharamkan ke dalam rumah, terlebih lagi video, walaupun engkau memberikannya dengan maksud sekedar untuk menghibur mereka.
Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, barangsiapa meninggalkan maksiat karena Allah, padahal hawa nafsunya ingin melakukannya, Allah akan menggantikannya dengan keimanan dalam hatinya, berikut keluasan, kelapangan dan berkah dalam rejekinya serta kesehatan badannya, di samping pahala dari Allah yang ia tidak akan mampu menggambarkannya.” (Taisir Al-Karimir Rahman).
Waspadalah wahai saudariku muslimah dari mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, walaupun diri dalam keadaan marah. Bisa jadi doamu bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, hingga doa jelekmu itu terkabul. Sebaliknya, perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi mereka.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memperbaiki anak-anak kita dan menjadikan mereka penghibur hati bagi kita di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah menolong kita dalam mengemban amanah ini.
(Diterjemahkan dengan ringkas oleh Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim dari tulisan aslinya yang bertajuk Tarbiyatul Abnaa’ ‘Alaa Manhaj As-Salaf, sebuah artikel yang diambil dari Ruknul Mar’ah As-Salafiyah -www.sahab.net)
Footnote:
*) Tabarruj adalah bersolek dan berhias di hadapan selain mahram.
Sumber: Majalah Asy Syari’ah, No. 05/I/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003, hal. 77-79.

Read More...
AKHUNAIS. Diberdayakan oleh Blogger.